ANTARA POLITIK DAN KEARIFAN: MEREKATKAN PERSATUAN MELALUI MODEL KOMUNIKASI BUDAYA PASAR SEMAWIS SEMARANG

Ratna Bella Sari, Amalia Raissa Ardiani

Abstract


Masalah intoleransi belakangan menjadi ancaman bagi persatuan Indonesia akibat sentimen antar etnis yang marak dalam pertarungan politik dan mengarah kepada disintegerasi bangsa. Salah satu yaitu Pilkada DKI Jakarta tahun 2017. Hal ini menimbulkan kegaduhan rasisme etnis Tionghoa dalam masyarakat Jakarta hingga pilkada usai. Kajian ini memiliki ruang lingkup mengenai solusi persatuan pasca pesta demokrasi di Kota Semarang berupa nilai-nilai sosial yang terkandung dalam keberagaman dan toleransi antar etnis budaya Tionghoa, Arab, dan Jawa di Pasar Semawis. Tujuan kajian ini adalah untuk mengkaji dan mengetahui Pasar Semawis di Kota Semarang sebagai model komunikasi budaya yang berorientasi merekatkan persatuan masyarakat. Metode penelitian adalah kualitatif deskriptif melalui observasi, wawancara yang melibatkan etnis Tionghoa dan etnis Jawa, dan beberapa pengunjung di Pasar Semawis, serta studi pustaka yang merujuk pada buku dan jurnal. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Secara prinsip praktik politik tidak dapat dilepaskan dari kearifan suatu masyarakat yang didalamnya mencangkup kerukunan dan toleransi, (2) Pasar Semawis menjadi model komunikasi budaya yang efektif dalam konteks Semarang, dan (3) Nilai-nilai yang dapat diambil dari Semawis sebagai model komunikasi budaya adalah toleransi, harmonisasi, gotongroyong, dan solidaritas sosial.

Keywords


Intoleransi, Politik, Komunikasi Budaya, Semawis, Semarang

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.