Mendidik Politik Membangun Jiwa Melalui Pesantren Tradisional

Fandy Adpen Lazzavietamsi

Abstract


Makalah ini bermaksud mengkaji bagaimana pesantren tradisional yang saat ini sudah tersudut oleh sistem pendidikan modern dan dianggap kurang relevan oleh zaman justru setia mendidik jiwa warga negara melalui sistem pendidikan yang mengedepankan keadaban sekitar. Mengingat pada tahun 2018 menjadi tahun politik bagi bangsa Indonesia yaitu ditandai dengan pemilu serentak kepala daerah dan pada tahun berikutnya bangsa Indoensia dihadapkan pada pemilihan presiden dan wakil presiden. Suara politik menggema dari kalangan masyarakat miskin sampai masyarakat dengan ekonomi menengah keatas. Setiap orang mempunyai harapan yang sama yaitu pemimpin yang lebih baik dari sebelumnya, namun sejauh mana batas kebaikan dan bagi siapa kebaikan itu menjadi persoalan yang sangat besar dalam pesta demokrasi bangsa Indonesia. Hak pilih masyarakat dengan ekonomi menengah kebawah selalu ditantang dengan praktik politik transaksional, perut dan harapan manakah yang lebih penting. Melalui kajian pustaka dan isu-isu yang berkembang saat ini, terdapat aspek mendasar dari pendidikan politik yaitu jiwa warga negara. Membangun warga negara berarti membangun manusia yang mempunyai aspek mendasar yaitu jiwa. Sejak sebelum kemerdekaan telah terbukti bahwa pesantren tradisional dengan semangat cinta kasih kepada sesama atas dasar Allah SWT yang dimanifestasikan kedalam politik kerakyatan dan politik kebangsaan. Adapun beberapa santri yang terjebak kedalam politik kekuasaan, bukan berarti mewakili pesantren namun individu santri tersebut. Politik adalah individu setiap orang dalam kerangka hidup bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat, sehingga meskipun agama dan politik tidak bisa dipisahkan bukan berarti agama dapat digunakan dalam berpolitik.

Keywords


Jiwa, pesantren, politik, tradisional

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.