Penguatan Integrasi Nasional Dalam Perspektif Pancasila Di Era Disrupsi

Arqom Kuswanjono

Abstract


Lawan dari integrasi adalah disintegrasi. Disintegrasi selalu menjadi ‗momok‘ bagi suatu negara, terutama di Indonesia yang merupakan negara yang memiliki tingkat keragaman sangat tinggi. Banyak peristiwa yang terjadi di Indonesia yang bisa dikategorikan sebagai upaya untuk melakukan disintegrasi ini. Gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Gerakan Republik Maluku Selatan (RMS), Gerakan Papua Merdeka adalah contoh upaya-upaya untuk melakukan disintegrasi, dan ada upaya yang berhasil yang dilakukan oleh Front Revolusi untuk Timor Leste Merdeka (FRETILIN) yaitu dengan lepasnya Timor Timur dari bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia. Gerakan lain yang juga bisa dikategorikan disintegrasi adalah kerusuhan antar masyarakat, kerusuhan antar suku, kerusuhan antar penganut agama dan gerakan yang ingin menggantikan dasar negara Pancasila dan sistem pemerintahan di Indonesia. Adanya berbagai tindakan yang disintegratif ini tentu diperlukan strategi yang extra ordinary untuk mengatasi dan mengantisipasinya. Sejarah mencatat bahwa Pancasila telah berhasil menyatukan keragaman bangsa Indonesia. Bukti otentiknya adalah adanya negara Indonesia itu sendiri. Banyak kerajaan yang tersebar di seantero nusantara ini dan bersedia melepaskan kedaulatannya untuk bersama melebur dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tidak ada satu kerajaanpun yang dikemudian hari memberontak untuk melepaskan diri dari Indonesia. Meminjam istilah Clifford Geertz, dalam hal ini Pancasila memerankan fungsinya sebagai ideologi yang integratif. Namun demikian, Pancasila akan terus diuji apakah akan tetap mampu dan relevan sebagai dasar pemersatu bangsa Indonesia terutama di era yang disruptif seperti saat ini.

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.