Penguatan Integrasi Nasional Di Era Disrupsi Dalam Perspektif Pancasila

Alim Salamah

Abstract


Indonesia dikenal dengan keanekaragaman suku, budaya, ras dan agama. Adanya pengaruh globalisasi yang masuk ke Indonesia membuat masyarakat Indonesia lebih memilih sesuatu yang trend walaupun hal tersebut membuat upaya integrasi nasional sulit terwujud. Selain pengaruh globalisasi, masyarakat Indonesia bertindak atas wewenang sendiri maupun kelompok sehingga konflik terjadi dimana-mana seperti pertengkaran antar suku, pembakaran tempat-tempat ibadah dan lain sebagainya. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menjawab beberapa permasalahan/isu bangsa yang muncul di era disrupsi: 1) pemahaman Pancasila, 2) ekslusivisme sosial, 3) kesenjangan sosial, 4) pelembagaan Pancasila, 5) kurangnyaa keteladanan Pancasila. Faktor penghambat terwujudnya integrasi nasional:1) penghargaan terhadap kemajemukan 2) kurangnya toleransi 3) kurangnya kesadaran diri. Integrasi nasional merupakan suatu cara yang dapat menyatukan berbagai macam perbedaan yang. Adanya upaya mengintegrasikan Indonesia, perbedaan-perbedaan yang ada tetap harus diakui. Selain menghargai dan mengakui perbedaan, masyarakat harus memiliki rasa toleransi terhadap sesama sehingga tidak terjadi konflik yang berkepanjangan yang dapat merugikan. Faktor pendorong integrasi nasional: 1. Rasa senasib-seperjuangan 2. Pemaknaan Ideologi Nasional 3. Keinginan untuk bersatu 4. Antisipasi ancaman dari luar. Dalam upaya mewujudkan integrasi nasional maka Pancasila menjadi jawaban mutlak. Ada delapan pokok siasat kebudayaan sebagai alternatif menghadapi era disrupsi yang meliputi tindakan untuk membangkitkan kebiasaan berpikir serius; mengubah konsep ekonomi dari urusan pasar dan jual beli uang ke urusan mata pencaharian warga biasa; melatih kebiasaan mau mengakui kesalahan dan berkata benar; melatih kebiasan berpolitik karena taggung jawab dan komitmen pada kehidupan publik bukan pribadi; melatih hasrat belanja karena perlu, bukan karema mau; membangun kebiasaan baru seluas bangsa untuk menilai bahwa korupsi, plagiarisme bukan hal lazim tapi kriminalitas; mengembalikan profesi sebagai janji publik, bukan sekadar keahlian; melatih bertindak karena komitmen, bukan semata karena suka. Sebagian pihak mengatakan bahwa disrupsi adalah sebuah ancaman, namun, banyak pihak mengatakan kondisi saat adalah peluang.

Keywords


Integrasi Nasional, Era Disrupsi, Perspektif Pancasila

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.